Rabu, 22 Oktober 2008

eros

eros

Pada umumnya orang mengenal bahwa CINTA (love) dibagi menjadi empat macam: eros, philea, storge dan agape. Masing-masing memiliki karakternya sendiri lalu dari padanya muncullah pembuatan peringkat dan Agape dimengerti sebagai CINTA yang paling luhur dan mulia. Sementara itu eros sering dianggap sebagaian orang sebagai “wujud” CINTA yang kurang mulia karena dikaitkan dengan kedagingan. Bahkan dalam banyak hal dikaitkan dengan hal-hal yang dipandang tabu atau porno. Sebagai contoh dalam keluarga, apakah suami-istri menempatkan eros dapat terekspresi secara natural (dalam artian proporsional) pada anak kita? Seorang suami untuk merangkul atau mencium istrinya masih banyak yang harus bersembunyi (‘delikan’) supaya tidak dilihat anaknya, karena dimengerti hal itu sebagai hal yang tabu bagi anak. Setidaknya bagi sebagian keluarga memposisikan eros sedemikian rupa. Apakah eros tidak dimungkinkan mengandung agape? Satu hal yang patutnya disadari terlebih dahulu bahwa pembagian CINTA menjadi empat mecam bukanlah satu-satunya pandangan tentang CINTA. Eros sesungguhnya tidak dapat dipisahkan dengan agape yang terkait dengan kasih Illahi. Kitab Kidung Agung menggunakan bahasa erotis untuk mengungkapkan kemesraan antara Tuhan dan umat, misalnya pada pasal 7 ayat 6-9 :

“Betapa cantik, betapa jelita engkau hai tercinta diantara segala yang disenangi. Sosok tubuhmu seumpama pohon korma dan buah dadamu gugusannya. Kataku: ‘ Aku ingin memanjat pohon korma itu dan memegang gugusan-gugusannya. Kiranya buah dadamu seperti gugusan anggur dan nafas hidungmu seperti buah apel. Kata-katamu manis bagaikan anggur!”. Ya anggur itu mengalir kepada kekasihku dengan tak putus-putusnya, melimpah ke bibir orang-orang yang sedang tidur!”.

Penggunaan eros ini dipertegas oleh Tuhan Yesus dengan mengumpamakan diriNya sebagai mempelai laki-laki bagi gerejaNya sebagai memepelai perempuan. Eros yang mengandung arti cinta pada keindahan mengandung suatu keterkaitan antara dinamika duniawi dan sorgawi yang terekspresi pada hasrat.

Apabila kita merenungkan kembali keberadaan kita sebagai menusia pada penciptaan, maka disana kita menjumpai bahwa manusia diciptakan menurut gamabar dan rupa Allah (Kej 1:26) dan juga diciptakan dari debu tanah (Kej 2:27); maka secara spiritual, erotisme dalam diri manusia merupakan manifestasi erotisme Allah. John Climacus, seorang spiritualist abad VI mengatakan : “Bila kita mengasihi Tuhan dengan kekuatan eros, maka eros akan mengalami transformasi menjadi agape”.

Kepaduan antara eros dengan agape akan mempengaruhi pemahaman kita tentang keterkaitan seksualitas dengan spiritualitas. Dengan keyakinan kita bahwa Allah telah berinkarnasidalam diri Yesus dan menjadi daging ini hendaknya pengalaman dalam hidup kita merupakan pengalaman bersama Allah pula. Eros hendaknya menjadi wahana menyatukan Allah dalam pengalaman hidup ini. Dengan demikian apabila kita mengkontemplasikan eros maka di situ akan melahirkan spiritualitas perjumpaan (spiritualitas union) antara manusia dan Allah. Dan eros menjadi sebuah hasrat yang kudus ( a holy desire). Saya menawarkan sebuah kontemplasi eros yaitu :temukan keindahan bersama pasangan saudara dan nikmati kebersamaan yang ada kemuduan renungkan secara mendalam “ nilai perjumpaan dengan Allah” selama bersama pasanganmu., lalu sharingkan itu pada pasangan saudara.

Akhirnya, Kahlil Gibran, seorang theolog asal Libanon, mengatakan : CINTA tak memberikan apa-apa, kecuali keseluruhan dirinya, utuh penuh, pun tidak mengambil apa-apa, kecuali dari dari dirinya sendiri. CINTA tidak memiliki ataupun dimiliki; karena CINTA telah cukup untuk CINTA.

Pdt. Stefanus Christian Haryono,MACF

Pendeta UKDW

Koran Kampus UKDW vol 1/3

Februari-Maret 2007

Tidak ada komentar: