Rabu, 22 Oktober 2008

MERDEKA DARI GANGGUAN JIWA

Setiap tahunnya pada 10 Oktober selalu diperingati sebagai Hari Kesehatan Jiwa Dunia. Dalam peringatan hari tersebut, tujuan yang paling utama tak lain hanya untuk mengatasi masalah gangguan-gangguan kesehatan jiwa yang sudah mengkhawatirkan dan sudah mencapai titik klimaks pada dewasa ini akibat dari sering tejadinyaberbagai konflik, “peperengan”, korupsi, pengangguran, serta lilitan krisis ekonomi yang terus berkepanjangan.
Menurut data yang dihimpun dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), masalah gangguan kesehatan jiwa di seluruh dunia memang sudah menjadi masalah yang sangat serius dan harus segera ditangani. Sebab, bagaimanapun juga kesehatan jiwa merupakan suatu yang palingurgen dalam kehidupan sehari-hari. WHO manyatakan, paling tidak ada satu dari empat orang di dunia yang mengalami masalah mental.
Peringatan Hari Kesehatan Jiwa tahun ini tentunya merupakan momen yang paling strategis serta tepat untuk paling tidak mengurangi segala bentuk gangguan penyakit jiwa yang sering melanda manusia di sunia khususnya di Indonesia seperti sekarang ini. Sebab, peringatan hari kesehatan jiwa tahun ini bertepatan dengan Ramadhan serta berdekatan dengan Idul Fitri.

Puasa Sebagai Terapi
Secara ilmiah sebagaimana yang telah diungkapkan oleh Dr Alan Cott dalam karya besarnya yang berjudul Fasting as a Way of Life dan Fasting the Ultimate Diet, ternyata secara tidak langsung ritual puasa dan idul fitri tersebut dapat dijadikan suatu srana terapi yang paling efektif untuk menanggulangi dan menangani masalah gangguan kesehatan bagi jiwa manusia yang acap kali terjadi dalam diri kita, di samping pada akhirnya juga jasmaninya akan lebih sehat.
Dalam bukunya tersebut, Alan Cott menyebutkan bahwa gangguan jiwa yang parah dapat disenbuhkan dengan jalan berpuasa. Penelitian yang dilakukan Alan Cott terhadap pasien gangguan jiwa di RS Grace Square New York menemukan hasil yang sejalan dengan pemikiranny tersebut. Pasien yang mengalami gangguan sakit jiwa, baik tingkat tinggi maupun rendah, ternyata dapat sembuh dengan jalan terapi puasa. Ditinjau dari segi penyembuhan kecemasan dilaporkan pula bahwa penyakit seperti susah tidur dan merasa rendah diri dapat disembuhkan pula dengan ritual puasa.
Adanya gangguan kesehatan jiwa pada manusia ini sebenarnya banyak sekali penyebabnya, baik secara ekstern maupun intern yang sering kita alami dalam kehidupan sehari-hari. Akan tetapi, menurut Prof Dr dr H Aris Sudiyanto SpKJ, guru besar Ilmu Kedokteran Jiwa (Psikiatri) Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, setidaknya ada tiga golongan yang paling utama penyebab gangguan jiwa pada manusia ini.
Pertama, gangguan fisik, biologic, atau organic. Penyebabnya yang tak lain berasal dari faktor keturunan, kelainan pada otak, penyakit infeksi (tifus, hepatitis, malaria), serta kecanduan obat dan alcohol.
Kedua, gangguan yang disebabkan oleh cacat mental, emosional, atau kejiwaan seseorang. Penyebabnya antara lain karena salah asuh, hubungan yang patologis diantara anggota keluarga disebabkan frustasi, konflik dan tekanan krisis.
Ketiga, gangguan sosial atau lingkungan yang berada di sekitarnya. Penyebabnya dapat berupa stressor psikososial (baca:perkawinan, problem orang tua, hubungan antar personal dalam pekerjaan, sekolah atau lingkungan hidup, dalam masalah keuangan, hukum, perkembangan diri, faktor keluarga, penyakit fisik dan lainnya).

Menuju hidup sehat
Selain itu, jika dikajilebih mendalam lagi, ternyata ritual puasa tersebut bukan hanya dijadikan sebuah terapi saja, melainkan juga dapat membentuk masyarakat yag sehat, baik secara jasmani maupun rohani.
Untuk mencapai masyarakat sehat tersebut, harus berawal dari pribadi-pribadi yang sehat pula, baik jasmani maupun rohaninya. Dalam hal semacam ini, Erich Fomm(1995) mengungkapkan bahwa pribadi yang sehat mental adalah pribadi yang produktif dan tidak teralienasi, pribadi yang menghubungkan dirinya sendiri dengan duniapenuh cinta, yang menggunakan akal budinya untuk mengungkap realitas-realitas di sekitarnya secara obyektif, yang merasa dirinya sendiri sebagai satu kesatuan individu yang unik dan pada saat yang sama merasa satu dengan seasamanya, dalam artian dalam dirinya mempunyai rasa solidaritas yang tinggi.
Pendek kata, kondisi ewarasan dan kesehatan mental seseorang dapat dicapai hanya dengan perubahan-perubahan simultan dalam perbagai bidang pembangunan yang berada di sekitar kita. Bisa berupa bidang industri, pendidikan, oraganisasi politik, spiritual, orientasi filosofis, struktur karakter, perilaku manusia, aktivitas kebudayaan suatu masyarakat dan kebiasaan yang ada dalam komunitas tersebut.
Untuk mewujudkan kondisi kesehatan jiwa manusia yang benar-benar seperti itu, salah satu kunci yang paling utama tidak lain adalah setiap jiwa dan raga kita harus dapat melakukan peningkatan serta pembangaunan akan kualitas hidup yang dapat menjaminterciptanya kondisi sehat yang sesungguhnya, yaitu melalui terapi puasa.
Dengan ritual, kita akan mendapat jiwa yang fitrah (suci). Dan kondisi yang semacam itu pasti akan melahirkan pemikiran-pemikiran yang jernih dan sehat pula. Dengan demikian, kita dapat memahami serta mengerti akan keberadaan kita di negara Indonesia sebagai makhluk sosial.




Tidak ada komentar: