Kamis, 23 Oktober 2008

Mekanisme Bawah Sadar Manusia Mengenali Saudara Kandung

Mekanisme Bawah Sadar Manusia Mengenali Saudara Kandung

Sejak dulu ternyata manusia bisa membedakan mana saudara biologis dan mana bukan berdasarkan naluri bawah sadar. Bagaimana bisa?

Teori dasar dalam biologi evolusi telah lama menyatakan bahwa hubungan keluarga biologis adalah fondasi dalam unit keluarga. Itu tidak hanya menciptakan rasa altruisme yang eksis diantara anggota keluarga yang berhubungan secara genetis, namun juga menciptakan pembatas, yang terkait hubungan seksual di dalam keluarga inti. Pertanyaan masih menggantung, mengenai bagaimana cara manusia mengenali anggota keluarga-terutama saudara kandung- sebagai berhubungan dekat secara genetis.

Tim peneliti dari Universitas California, Santa Barbara (UCSB), telah menemukan bukti akan keberadaan mekanisme bahwa sadar pada otak manusia yang mengidentifikasi saudara kandung secara genetis atas dasar signal yang memandu nenek moyang pemburu kita. Penemuan mereka telah diterbitkan di Jurnal Nature. Dalam kajian yang melibatkan lebih dari 600 subjek tes, peneliti menemukan bahwa manusia merasa lebih altruistik terhadap individu yang oleh mekanisme tersebut dikenali sebagai saudara kandung, dan, pada waktu yang sama, merasakan tingginya kehendak untuk menghindari berhubungan seks dengan mereka.

Paradigma

“Paradigma lama menyatakan bahwa Darwinisme diterapkan pada manusia secara fisis, namun tidak secara sosial. Namun sekarang kita lihat, bahwa terjadi evolusi pada mekanisme yang akhirnya mengatur aspek penting dari Sifat sosial manusia,’ demikian kata John Tooby, Profesor antropologi dan wakil direktur dari Pusat Psikologi Evolusi di UCSB.

Ia melakukan kajian tersebut dengan Leda Cosmides, profesor psikologi dan juga wakil direktur dari Pusat Psikologi Evolusi, dan Debra Lieberman, mantan mahasiswa pada pusat kajian tersebut, dan sekarang profesor psikologi pada Universitas Hawaii. Mekanisme seperti yang ditemukan pada kajian ini telah ditemukan pada banyak spesies, demikian menurut dia, namun keberadaannya pada manusia telah menjadi kontroversi. Menurut peneliti, pengembangan dari altruisme antara saudara kandung adalah hasil dari seleksi alam, dimana penghindaran mereka pada hubungan seks satu dengan lainnya, dan penghindaran terhadap hubungan seks diantara saudara kandung secara umum.

Sosioekologi

Penemuan pada kajian ini mengindikasikan, bahwa sensibilitas tersebut bukan terutama karena hasil sosialisasi dari keluarga atau orang tua, namun adalah sistim motivasi yang berevolusi untuk menanggapi signal dari kekerabatan genetis. Pertanyaan yang dicoba dijawab oleh peneliti, adalah bagaimana saudara kandung mengenali pasangan genetik mereka yang pas (pasangan yang secara genetis identik). Berdasarkan sosioekologi dari nenek moyang manusia yang masih pemburu, mereka menemukan jawaban pada satu set signal yang membolehkan manusia untuk mengidentifikasi kakak atau adik mereka sebagai saudara kandung. Untuk saudara kandung yang lebih tua, apa yang dinamakan peneliti sebagai ‘asosiasi maternal perinatal’-menlihat perhatian ibu terhadap saudara kandung yang masih bayi- mengaktifkan mekanisme pada otak, yang pada akhirnya, meningkatkan perasaan altruisme dan penghindaran seksual terhadap saudara kandung yang lebih muda. Signal ini, bagaimanapun, tidak tersedia pada saudara kandung yang lebih muda, dimana urutan lahir mereka tidak memungkinkan dia melihat ibunya merawat dan memperhatikan saudara kandung yang lebih tua.

Untuk saudara kandung ini, mekanisme tersebut diaktivasi oleh banyaknya waktu mereka hidup bersama dalam suatu keluarga selama periode dari bayi sampai ke remaja. Peneliti menemukan bahwa ‘residensi bersama’ ini mengatur alturisme dan penghindaran seksual dari saudara kandung terhadap saudara tiri dan saudara adopsi juga-inidvidual dimana secara sadar tidak berhubungan secara genetik. “Ini menunjukkan bahwa mekanisme beroperasi secara independen dari kepercayaan kita terhadap hubungan keluarga,’ demikian kata Cosmides. “Signal tersebut mengatur altruisme saudara kandung dan penghindaran seksual, tidak peduli apa yang kita percaya.”

Penemuan dari mekanisme yang didisain untuk menjadikan hubungan keluarga ke arah non erotis telah menyebabkan teori Sigmund Freud mengenai anggota keluarga adalah obyek hasrat seksual yang utama dan pertama, akhirnya diragukan. Demikian penjelasan pengarang. Ini juga menolong untuk menyelesaikan debat yang sudah berlangsung lama dalam antropologi mengenai apakah hubungan keluarga adalah secara sosial diciptakan murni hanya oleh kultur, atau terdapat keterlibatan mekanisme evolusi di dalam otak yang berperan. Hasil kajian tersebut juga bisa bermanfaat untuk profesional dunia kesehatan, seperti psikiatri dan psikologi, yang merawat korbat inses dan pelakunya.

“Teori tersebut memberikan cara untuk mengidentifikasi siapa saja yang beresiko menjadi korban dan pelaku inses,’ demikian kata Tooby. ” Saudara kandung yang telah hidup secara terpisah dalam periode sangat panjang sama sekali tidak terpapar signal dari otak tersebut. Ini bisa memberikan penjelasan, mengapa seseorang bisa memiliki tendensi ke arah inses.” Ini juga menjelaskan, demikian kata dia, cara untuk membangun keluarga yang dapat lebih kuat terikat oleh ikatan perhatian dan cinta kasih.

0 komentar: