Jumat, 24 Oktober 2008

Selamat Berteman Hidup

Mengapa orang menikah? Karena jatuh Cinta. Mengapa rumah tangganya bahagia? Bukan karena bangun cinta. Jatuh cinta berebeda dengan bangun cinta. Jatuh cinta itu gampang, dalam sepuluh menit saja juga bisa. Tetapi membangun cinta itu perlu waktu seumur hidup.
Mengapa jatuh cinta itu gampang? Karena ketika jatuh cinta, kita buta, bisu dan tuli. Kita buta sehingga tidak bisa melihat keburukan si dia. Seandainya kita melihat, kita tidak mencelanya karena kita bisu. Dan seandainya kita mencela, dia tidak akan mendengar sebab dia tuli.. itulah sebabnya pada masa pacaran dan bulan madu, biasanya pasangan akan rukun-rukun saja.
Setelah masa bulan madu berakhir, barulah kita melihat keburukan si dia, lalu kita mengkritik, ia membela diri dan akhirnya pertengkaran pun terjadi.
Kalau begitu apakah sebaiknya kita lakukan? Kita perlu menyepakati pedoman berumah tangga demi penyesuaian diri kita sebagai pasangan hidup.
Interaksi dengan teman hidup memang berbeda dengan interaki dengan teman di kampus, kantor yang hanya berlangsung beberapa jam saja sehari. Kita berinteraksi dengan pasangan hidup kita selama 24 jam sehari selama tujuh hari. Interaksi yang intensif berdampak positif dan negatif. Positifnya, kita betul-betul saling mengenal watak dan kebiasaan masing-masing. Semua belang kita tersingkap. Tidak ada sifat buruk yang tersembunyi di balik topeng. Negatifnya, kita jadi mudah saling kecewa dan jengkel terhadapa semua keburukan itu.
Disinilah letak perbedaan antara jatuh cinta dan bangun cinta. Kita jatuh cinta dalam keadaan menyukai. Padahal bangun cinta diperlukan dalam keadaan jengkel. Dalam suasana jengkelitu, cinta bukan berwujud pelukan, melainkan berbentuk itikad baik memahami konflik, lalu bersama-sama mencari solusi yang akseptebel untuk semua pihak.
Dalam cinta yang dewasa tidakada uneg-uneg yang dipendam. Memang ada persoalan yang sensitif untuk dibicarakan, seperti tentang mertua, hubungan seksual, bantuan uang untuk keponakan, namun hal itu pun perlu untuk dibicarakan supaya kejengkelan tidak berlarut-larut.
Prasarat untuk keberhasilan pembicaraan itu adalah bahwa kita saling memperhitungkan perasaan. Si istri berkata, “Kalau kamu lebih meladeni ibumu daripada aku, kamu tidur saja dengan ibumu”. Ucapan seperti itu hanya memperhitungkan perasaan sendiri, yaitu perasaan jengkel terhadap suami. Padahal dengan ucapan seperti itu bisa membuat perasaan suami menjadi terluka. Cinta yang dewasa menegur dan memarahaibukan secara destruktif, melainkan konstruktif. Kita saling memperhatikan perasaan masing-masing. Rasul Paulus memakai istilah “memperhatikan kepentingan” yang bermaksud serupa. Tulisnya, “Dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga” (Flp 2:4).
Jika suami istri hanya memperhatikan perasaannya sendiri dan kurang memperhatikan perasaan pihak lain, maka mereka akan saling melukai hati. Makin berlarut, makin dalam luka itu. Suasana terasa menyiksa dan pernikahan seakan menjadi neraka bagi mereka.
Apakah rumaha tangga ini bisa utuh kembali? Tentu saja! Caranya sederhana.coaba ingat-ingat, dulu ketika masih berpacaran, kita mencari teman hidup atau musuh hidup? Lalu sekarang mengapa kita memusuhi dia?
Berteman hidup dimulai dengan jatuh cinta. Tetapi sesudah itu kita perlu bangun cinta. Membangun cinta berarti mendewasakan cinta sehingga kedua pihak bisa saling mengoreksi, berunding, menghargai, memahami, mengalah, bertanggung jawab, menopang, setia, mendengarkan, memperhitungkan perasaan atau memperhatikan kepentingan.
Mau punya teman hidup? Silahkan jatuh cinta. Jatuhlah sedalam-dalamnya. Tetapi sesudah itu bangunlah! Bangun cinta! Selamat berteman hidup!!!


@Bee…

0 komentar: