Perhatian masyarakat terhadap anak-anak terlantar masih sering dikaitkan dengan kemiskinan atau kondisi peperangan. Padahal masalah penelantaran anak terjadi di banyak tempat, di berbagai negara, bahkan di negara maju seperti Amerika Serikat sekalipun. Keberadaan anak-anak terlantar adalah suatu peristiwa yang sebenarnya terjadi sehari-hari namun banyak tidak disadari oleh masyarakat.
Penelantaran anak dipengaruhi oleh adanya berbagai masalah di lingkungan sosial suatu masyarakat tertentu. Masalah ketidaklayakan perlakuan terhadap anak berkaitan dengan karakter individu yang bersangkutan, kondisi keluarga, kondisi lingkungan hidup masyarakat, khususnya di wilayah kehidupan bertetangga, dan nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat tersebut.
Penelantaran anak (neglected children) merupakan salah satu bentuk ketidaklayakan perlakuan terhadap anak. Bentuk-bentuk ketidaklayakan perlakuan terhadap anak adalah pelecehan fisik, penelantaran, pelecehan seksual, dan ketidaklayakan pembinaan hubungan emosional. Semua itu melibatkan tindakan menyakiti anak secara fisik maupun emosional, eksploitasi anak, dan menempatkan anak dalam situasi yang mengancam kesejahteraan anak. Deprivasi (keterasingan) pendidikan merupakan salah satu bentuk penelantaran anak. Orang tua yang tidak memberikan peluang pendidikan yang layak bagi anak-anaknya berarti menelantarkan anak-anak mereka untuk memiliki kesempatan tumbuh dan berkembang secara baik. Lingkungan sosial yang tidak memberikan failitas pendidikan yang baik bagi anak-anak juga berarti menelantarkan anak-anak.
Anak-anak yang mengalami ketidaklayakan perlakuan cenderung menunjukkan gangguan perkembangan meliputi ganguan afeksi, pengendalian diri yang rendah, ketidakmatangan mekanisme pertahanan dan distorsi dalam mengkaji realita. Ganguan afeksi yang muncul meliputi mudah tersinggung, cepat marah, depresi, kecenderungan berikap pasif. Anak-anak yang mengalami gangguan ini menunjukkan perilaku yang bersikap masa bodoh. Selanjutnya menunjukkan kelemahan dalam pengendalian impuls atau dorongan perilaku. Sehingga mereka mudah menunjukkan amarah, membentak-bentak, berteriak-teriak atau bisa juga menyerang secara fisik. Mereka mengalami gangguan karena penelantaran menyebabkan mereka mengalami hambatan memahami kasih sayang, memperoleh penghargaan dan kelayakan. Contohnya; upaya mereka untuk melakukan perbuatan baik tidak mendapatkan perhatian dari orang tua, akibatnya mereka tidak pernah belajar bahwa hal yang mereka lakukan adalah hal yang baik. Mereka justru memperolah perhatian saat melakukan hal yang salah, akibatnya mereka akan mengembangkan perilaku-perilaku keliru untuk memperoleh perhatian yang mereka harapkan. Sehingga berkembang persepsi bahwa dengan jalan membandel mereka akan memeperoleh perhatian yang lebih besar dari orang tua.
Ketidaklayakan perlakuan terhadap anak-anak menimbulkan beragam masalah seperti kenakalan anak, tindak kekerasan, kecenderungan melukai diri sendiri, PTSD (post traumatic stress disorder), depresi, dan masalah lainnya. Namun masalah yang paling sering muncul adalah masalah sekolah. Anak-anak telantar tidak mudah menyesuaikan diri mereka untuk mengikuti pendidikan mereka di sekolah karena mereka tidak biasa mengikuti aturan-aturan sekolah. Bagi anak-anak telantar proses belajar merupakan tekanan yang besar dan kurangnya bekal keterampilan untuk mengatasi masalah itu. Disamping itu, fasilitas sosial yang dimiliki sangatlah terbatas.
Mekanisme pertahanan berupa pembatalan (undoing), tinggi pada anak-anak telantar. Pembatalan merupakan bentuk mekanisme pertahanan yang bertujuan secara simbolis membatalkan peristiwa yang dialami. Salah satu contoh bentuk pembatalan yang dialami anak telantar adalah bunuh diri untuk membatalkan ketidaklayakan perlakuan yang mereka alami. Mereka merasa tidak memiliki makna bagi keluaga, sehingga berupaya membatalkan kehadiran mereka lewat bunuh diri.
Anak-anak telantar sulit mengembangkan kelekatan emosional dengan orang lain (emosional attachment), karena mereka terbiasa ditelantarkan dan ditolak kehadirannya dalam keluarganya sendiri. Hambatan untuk mengembangkan hubungan emosional dengan erat merupakan bentuk gangguan kelekatan amosional (attachment disorder). Akibatnya mereka tumbuh sebagai anak yang sulit dikendalikan dan mengalami gangguan perilaku.
Keluarga adalah lingkungan sosial utama yang mempengaruhi peluang terbentuknya atau terhindarnya anak dari penelantaran. Anak-anak telantar kebanyakan tumbuh dari keluarga yang kaku, tidak stabil dan mengalami konflik peran atau hambatan komunikasi. Keluarga yang kaku adalah keluarga yang menerapkan aturan-aturan secara kaku terhadap anggota keluarganya. Kesempatan anak untuk bermain menjadi terbatas, dan mereka diharuskan mengerjakan tugas-tugas mereka sesuai dengan waktu yang sudah ditentukan. Dalam keluarga yang kaku, anak-anak tidak berpeluang untuk mengemukakan pendapat, intinya harus patuh pada aturan keluarga. Hambatan komunikasi dalam keluarga juga merupakan salah satu faktor terbentuknya penelantaran anak. Orang tua sesungguhnya sebagai pelindung anak. Dalam kasus penelantaran anak, anak-anak merasa tidak dilindungi bahkan sering kali mereka ditugasi mencari nafkah bagi kedua orang tuanya padahal seharusnya mereka masih harus belajar dan bermain.
Dampak penelantaran anak menimbulkan beragam masalah sosial meliputi:
Penelantaran anak dipengaruhi oleh adanya berbagai masalah di lingkungan sosial suatu masyarakat tertentu. Masalah ketidaklayakan perlakuan terhadap anak berkaitan dengan karakter individu yang bersangkutan, kondisi keluarga, kondisi lingkungan hidup masyarakat, khususnya di wilayah kehidupan bertetangga, dan nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat tersebut.
Penelantaran anak (neglected children) merupakan salah satu bentuk ketidaklayakan perlakuan terhadap anak. Bentuk-bentuk ketidaklayakan perlakuan terhadap anak adalah pelecehan fisik, penelantaran, pelecehan seksual, dan ketidaklayakan pembinaan hubungan emosional. Semua itu melibatkan tindakan menyakiti anak secara fisik maupun emosional, eksploitasi anak, dan menempatkan anak dalam situasi yang mengancam kesejahteraan anak. Deprivasi (keterasingan) pendidikan merupakan salah satu bentuk penelantaran anak. Orang tua yang tidak memberikan peluang pendidikan yang layak bagi anak-anaknya berarti menelantarkan anak-anak mereka untuk memiliki kesempatan tumbuh dan berkembang secara baik. Lingkungan sosial yang tidak memberikan failitas pendidikan yang baik bagi anak-anak juga berarti menelantarkan anak-anak.
Anak-anak yang mengalami ketidaklayakan perlakuan cenderung menunjukkan gangguan perkembangan meliputi ganguan afeksi, pengendalian diri yang rendah, ketidakmatangan mekanisme pertahanan dan distorsi dalam mengkaji realita. Ganguan afeksi yang muncul meliputi mudah tersinggung, cepat marah, depresi, kecenderungan berikap pasif. Anak-anak yang mengalami gangguan ini menunjukkan perilaku yang bersikap masa bodoh. Selanjutnya menunjukkan kelemahan dalam pengendalian impuls atau dorongan perilaku. Sehingga mereka mudah menunjukkan amarah, membentak-bentak, berteriak-teriak atau bisa juga menyerang secara fisik. Mereka mengalami gangguan karena penelantaran menyebabkan mereka mengalami hambatan memahami kasih sayang, memperoleh penghargaan dan kelayakan. Contohnya; upaya mereka untuk melakukan perbuatan baik tidak mendapatkan perhatian dari orang tua, akibatnya mereka tidak pernah belajar bahwa hal yang mereka lakukan adalah hal yang baik. Mereka justru memperolah perhatian saat melakukan hal yang salah, akibatnya mereka akan mengembangkan perilaku-perilaku keliru untuk memperoleh perhatian yang mereka harapkan. Sehingga berkembang persepsi bahwa dengan jalan membandel mereka akan memeperoleh perhatian yang lebih besar dari orang tua.
Ketidaklayakan perlakuan terhadap anak-anak menimbulkan beragam masalah seperti kenakalan anak, tindak kekerasan, kecenderungan melukai diri sendiri, PTSD (post traumatic stress disorder), depresi, dan masalah lainnya. Namun masalah yang paling sering muncul adalah masalah sekolah. Anak-anak telantar tidak mudah menyesuaikan diri mereka untuk mengikuti pendidikan mereka di sekolah karena mereka tidak biasa mengikuti aturan-aturan sekolah. Bagi anak-anak telantar proses belajar merupakan tekanan yang besar dan kurangnya bekal keterampilan untuk mengatasi masalah itu. Disamping itu, fasilitas sosial yang dimiliki sangatlah terbatas.
Mekanisme pertahanan berupa pembatalan (undoing), tinggi pada anak-anak telantar. Pembatalan merupakan bentuk mekanisme pertahanan yang bertujuan secara simbolis membatalkan peristiwa yang dialami. Salah satu contoh bentuk pembatalan yang dialami anak telantar adalah bunuh diri untuk membatalkan ketidaklayakan perlakuan yang mereka alami. Mereka merasa tidak memiliki makna bagi keluaga, sehingga berupaya membatalkan kehadiran mereka lewat bunuh diri.
Anak-anak telantar sulit mengembangkan kelekatan emosional dengan orang lain (emosional attachment), karena mereka terbiasa ditelantarkan dan ditolak kehadirannya dalam keluarganya sendiri. Hambatan untuk mengembangkan hubungan emosional dengan erat merupakan bentuk gangguan kelekatan amosional (attachment disorder). Akibatnya mereka tumbuh sebagai anak yang sulit dikendalikan dan mengalami gangguan perilaku.
Keluarga adalah lingkungan sosial utama yang mempengaruhi peluang terbentuknya atau terhindarnya anak dari penelantaran. Anak-anak telantar kebanyakan tumbuh dari keluarga yang kaku, tidak stabil dan mengalami konflik peran atau hambatan komunikasi. Keluarga yang kaku adalah keluarga yang menerapkan aturan-aturan secara kaku terhadap anggota keluarganya. Kesempatan anak untuk bermain menjadi terbatas, dan mereka diharuskan mengerjakan tugas-tugas mereka sesuai dengan waktu yang sudah ditentukan. Dalam keluarga yang kaku, anak-anak tidak berpeluang untuk mengemukakan pendapat, intinya harus patuh pada aturan keluarga. Hambatan komunikasi dalam keluarga juga merupakan salah satu faktor terbentuknya penelantaran anak. Orang tua sesungguhnya sebagai pelindung anak. Dalam kasus penelantaran anak, anak-anak merasa tidak dilindungi bahkan sering kali mereka ditugasi mencari nafkah bagi kedua orang tuanya padahal seharusnya mereka masih harus belajar dan bermain.
Dampak penelantaran anak menimbulkan beragam masalah sosial meliputi:
- Borderline Personality Disorder (BPD) adalah jenis gangguan kepribadian yang ditandai dengan ketidakstabilan hubungan interpersonal, ketidakjelasan konsep diri, ketidakstabilan afeksi dan kecenderungan bertindak impulsive. Individu yang ditelantarkan mengalami kecemasan ditelantarkan, mudah merasa takut ditinggal sendiri, karena mereka menganggap diri mereka ditelantarkan. Toleransi mereka rendah dan mudah menunjukkan amarah yang tidak pada tempatnya. Berkenaan dengan kasus penelantaran, dampak ini bisa terjadi karena anak-anak yang mengalami kondisi traumatis akibat penelantaran menjadi sensitive apabila menghadapi situasi ketika ia ditinggalkan seseorang yang dianggapnya sebagai pelindung.
- Phobia sosial ditandai dengan takut tampil di hadapan umum karena bisa menimbulkan rasa malu. Mereka yang phobia sosial merasa takut kalau orang lain menilai diri mereka bodoh, rendah dan lemah. Anak yang mengalami penelantaran kemungkinan mengalami phobia sosial, karena mereka tidak terbiasa tampil di hadapan publik. Mereka juga mungkin merasa rendah diri karena keterbatasan hidup mereka akibat penelantaran. Akibatnya mereka cenderung menjauhi situasi untuk tampil secara individu.
- IQ rendah (low intelligence quotients) merupakan salah satu akibat penelantaran anak. Rendahnya IQ terkait dengan kemungkinan hambatan perkembangan akibat ketidakseimbangan gizi yang mereka peroleh, hambatan respon akibat tidak memperoleh cukup perangsangan dalam program pengasuhan dan akibat keterbatasan pengetahuan akibat deprivasi pendidikan.
- Kecanduan alkohol dan narkoba mungkin terjadi pada anak-anak telantar akibat dari perilaku mencontoh orang tua yang mengalami kecanduan maupun mencontoh orang lain karena orang tua tidak mengawasi lingkungan bermain mereka. Kecanduan alkohol menyebabkan tingginya toleransi seseorang terhadap alkohol sehingga pada suatu saat tidak lagi peduli untuk terus mengkonsumsi alkohol sekalipun kondisi fisiknya terancam.
1 komentar:
konten ini menarik sekali buat saya, dan ingin memiliki buku aslinya..
boleh ga mba, nona atau apa saja nama yang mesti kupanggil buat kamu..
pleaseeee.. hel me..
aku sementara menyusun tesis nichh..
bantu aku donggg..
sekiranya kamu punya buku ini :
1. Psikologi Remaja
2. dan Psikologi Remaja : Perkembangan Peserta Didik
boleh kan gue pinjam...atau kamu kirim ke aku biar aku ganti ongkos beli dan biaya kirimnya....
pleasee..
Poskan Komentar