Rabu, 22 Oktober 2008

Mengatasi "Hobi" Isap Jempol & Gigit Kuku

Ada banyak alasan kenapa si kecil suka mengisap jari (umumnya jempol), atau menggigit kukunya. Penyebab dari sekadar rasa ingin tahu seperti apa rasanya, mengatasi rasa bosan , stress atau berusaha menutupi rasa takut. Yang jelas, kebiasaan ini dikenal dengan sebutan nervous habit, alias kebiasan yang disebabkan oleh perasaan takut atau gelisah.

Selain isap jempol, ada kebiasaan lain semisal gigit kuku, mengupil, memainkan rambut (memelintir atau menarik-narik rambut), serta menggeretakkan gigi. Celakanya, jika tidak cepat-cepat ditangani, kebiasaan ini kerap terbawa hingga si anak tumbuh dewasa.

Tumbuh dan berkembang merupakan proses yang menggelisahkan bagi anak dan banyaknya tekanan yang muncul bersamaan, kerap tidak tidak tertangkap oleh orang tua. Bila si kecil melakukan kebiasaan ini secara tidak berlebihan (dan tidak melukai dirinya), juga secara tidak sadar (misal selagi menonton teve), atau bila dia cenderungmenggigit sebagai respon terhadap situasi tetentu (ketika akan menghadapi ujian), Anda tidak perlu cemas berlebihan. Itu hanyalah cara anak menghadapi stress ringan. Kemungkinan besar cara ini akan berhenti dengan sendirinya.

Namun, bila kebiasaan menggigit kuku atau mengisap ibu jaritetap berlangsung atau tidak dapat dihindari, ada beberapa cara sederhana untuk membantu si kecil menghentikan kebiasaan tersebut. Yaitu :

a. Cari Sebabnya

Yang pertama harus anda lakukan adalah bertanya padanya, apa yang memebuatnya gelisah. Biasanya respon awalkita bila anak melakukan sesuatu yang mengkhawatirkan adalah mencoba menghentikan kebiasannya. Hal ini boleh saja sebagai sasaran jangka panjang. Namun,sebelummelakukan kita perlu mengetahui penyebabnya dan memikirkan apakah anak mengalami stress dan itulah yang perlu ditanyakan pada si kecil.

Jika sudah tahu apa yang membuat anak gelisah, bisa karena baru pindah rumah, perceraian orang tua, sekolah baru ataupun ujian, bantulah anak untuk mengungkapkan kekhawatirannya. Bagi sebagian besar anak, mereka akan berpikir, hal itu memang mudah untuk diucapkandaripada dilakukan. Toh, tetap tak ada salahnya Anda mencoba menyakinkan anak agarbersedia meninggalkan kebiasaan buruknya dengan tips-tips berikut ini :

Yang perlu diingat, jangan pernahlelah mengingatkan si kecil bahwa setiap orangmemeberi respon teknik yang berbeda dan dukung anak untuk mencoba berbagai macam solusi bila yang pertama tidak berhasil. Pada umumnya, semakin besar seorang anak, semakin besar rasa tanggung jawab yang dapat dilakukan atas usahanya. Jangan lupa pula ingatkan anak dan diri sendiri, pada akhirnya kesabaran dan ketekunan akan membuahkan hasil.

b. Jangan Memarahi

Kecuali bila anak memang betul-betul ingin berhenti menggigit kukunya, tidak banyak yang dapat Anda lakukan. Seperti nervous habit lainnya, menggigit kuku cenderung dilakukan tanpa sadar. Bila anak tidak menyadarinya, maka memarahi atau memaksanya menghentikan kebiasaan buruknya itu merupakan cara yang sia-sia. Bahkan orang dewasa pun mengalami kesulitan untuk menghentikan kebiasaan tersebut dan sebagian besar orang tua menyadari, justru merekalah yang memeberi contoh dari perilaku tadi. Jujurlah, apakah Anda suka memainkan telinga, memilin-milin rambut saat sedang berbicara di telepon?

c. Tentukan Batasannya

“dilarang menggigit kuku di meja makan” merupaka peraturan yang masuk akal sama halnya “Tidak boleh memberi makanan anjing dari piringmu”. Bila Anda sungguh-sungguh tidak dapat menerima kebiasaan buruknya itu, jelaskan baik-baik bahwa Anda tahu baginya sulit untuk meninggalkan kebiasaan tersebut tetapi,”Bunda ingin kamu tahu, Bunda tak suka melihatnya dan akan meninggalkan ruangan untuk beberapa saat bila kamu masih melakukannya”.

Bisa juga dengan mengingatkan anak bahwa mengisap jempol atau menggigit kuku adalah kebiasaan buruk dan tidak sopan, oleh karena itu bila dia tidak tahan ingin melakukannya sebaiknya jangan dilakukan di depan umum. Yang terpenting adalah, membuat anak mengerti untuk menjaga agar kebiasaan tersebut tidak meluas sehingga mengganggu orang lain.

Pada umumnya, sejauh anak tidak menyakiti atau melukai dirinya sendiri dan tidak tampak mengalami stres yang berlebihan, yang terbaik untuk Anda lakukan adalah menjaga kebersihan jari/kukunya. Ingatkan anak untuk tetap menjaga kebersihan tangannya, sering mencuci tangan, menggunting kuku secara teratur,dan bersusaha untuk mengalihkan perhatian bila keinginan menggigit kuku/mengisap jempol muncul.

Bila Anda menekan atau memaksanya untuk menghentikan kebiasaanya, Anda hanya akan membuat dia semakin stres dan resikonya akan semakin hebat. Semakin sedikit kerewelan Anda, semakin lebih mudah baginya untuk menghentikan kebiasaanyasesuai dengan keinginannya bila dia sudah siapdan dia akan merasa lebih nyaman untuk meminta bantuan Anda.

d. Beri Bantuan

Jika teman-temannya mengejeknya karena kebiasaannya menggigit jarinya, dia mungkin siap untuk berhenti dan anak akan membutuhkan bantuan Anda. Pertama-tama, bicarakan tentang anak-anak yang menggodanya. Dukung dia bagaimana perasaanya. Yakinkan anak, bahwa Anda akan selalu mencintainya,tidak peduli bagaimanapun bentuk kuku atau jempolnya. Lalu bicarakan tentang beberapa kemungkinan solusi.

e. Ajak Diskusi

Ajak anak untuk membicarakan cara menghentikan suatu kebiasaan buruk. Anda dapat memulai pembicaraan mengenai apa yang dimaksud dengan nervous habit dan bagaimana menghentikannya. Lalu tentukan sejauh mana keterlibatan Anda. Apakah anak ingin Anda mengingatkannya bila dia lupa atau apakah bila Anda mengingatkannya akan membuat dia merasa terganggu? Semakin besar anak maka semakin sedikit ia menginginkan keterlibatan orang tuanya.

f. Bantu Menyadari Kebiasaannya

Dukung anak untuk mejadi lebih sadar kapan dan dimana dia dapat mengisap jempol/menggigit kukunya. Buat persetujuan bersama bagaimana cara Anda mengingatkannya, terutamabila di depan umum. Entah dengan menggunakan bahasa tubuh tertentu atau kode kata-kata yang sudah Anda sepakati bersama anak. Ada anak yang lebih senang diperingatkanmelalui bahasa tubuh. Pilihan ani memebantu sejauh anak yang memilihnya. Bila tidak, hal ini akan tampak seperti hukuman baginya. Beberapa teknik yang dapat dicobaantara lain, memasang plester di jari atau mengoleskan cairan yang rasanya pahit atau tidak enak(yang tidak berbahaya bagi anak Anda menggosok matanya) di jarinya akan membuatnya tidak ingin menggigit.

g. Tawarkan Alternatif

Beri saran agar ia mengganti kebiasaanya dengan satu atau dua kegiatanlalu mintalah ia mempraktekkan kebiasaan alternative tersebut dalam beberapa menitsebelum masuk kelas atau sebelum tidur di malam hari. Anda dapat menambahkan beberapa teknik relaksasi yang dapat dicobanyabila ia merasa sangat ingin menggigit. Misalnya, menarik nafas dalam-dalamatau menggenggam dan melepas kepalan tangan.

h. Kapan Harus Khawatir

Pada kasus-kasus yang jarang terjadi, menggigit kuku dapat merupakan tanda kegelisahan yang berlebihan. Jika itu yang terjadi, konsultasikan anak ke dokter. Terlebih jika menggigit kukunya sangat kuat sehingga menyebabkan luka dan berdarah, jempolnya mengecil karena terlalu sering diisap atau bila kebiasaan buruknya itu dilakukan bersamaan dengan perilaku lain yang mengkhawatirkan sepertimanarik alisnya atau menarik rambutnya, atau bila dia tidak dapat tidur nyenyak. Konsultasikan ke dokter anak atau ke psikolog bila kebiasaan tersebut mendadak menjadi lebih hebat dan sering.

Tidak ada komentar: