Senin, 22 Desember 2008

Penderita Psikotis Yang Makin Meningkat


Jakarta - Makin hari, makin banyak orang yang terganggu jiwanya berkeliaran di jalan. Tanggung jawab siapakah? Yang jelas, mereka menjadi tanggung jawab negara. Departemen Sosial (Depsos) menunjuk Departemen Kesehatan (Depkes) sebagai pihak yang bertanggung jawab. Orang gila ini, istilah kedokteran jiwanya adalah psikotik atau psikotis. Sekarang, banyak psikotis ditemui di jalanan. Sepanjang, jalan Parung, Bogor hingga Lebak Bulus, Jakarta Selatan, misalnya. Selasa (25/10/2005), sedikitnya ada empat orang psikotis. Dua orang di pasar Parung, satu orang di perempatan Pondokcabe, dan satu orang terlihat di sekitar terminal Lebakbulus. Sangat mungkin, jumlah psikotis akan semakin meningkat, mengingat penderita depresi dan stres juga meningkat tajam setelah kenaikan harga BBM awal Oktober 2005 lalu. Bila penderita depresi tidak segera diatasi, maka lambat laun si penderita akan meningkat statusnya menjadi psikotis. Di antara psikotis, sebagian bertindak merugikan orang lain, seperti memukul-mukul badan mobil atau menghalangi jalan. Pemerintah terkesan membiarkan para penderita psikotis ini. Depsos mengaku tidak berkepentingan dengan orang-orang yang berkeliaran di jalan. "Para psikotis itu tanggung jawab Depkes (Departemen Kesehatan), bukan Depsos," kata Direktur Pembinaan Pelayanan Rehabilitasi Sosial dan Penyandang Cacat Depsos, Robinson W Saragih, saat ditemui detikcom di kantornya, Jl. Salemba Raya nomor 28, Jakarta Pusat. (jakarta1.detiknews.com)

Dari kutipan berita di atas, jumlah penderita psikotis semakin hari bertambah banyak. Beberapa masalah seperti masalah ekonomi dan keluarga dianggap sebagai indikasi seseorang menjadi psikotis. Menurut sumber lain, terjadinya bencana alam dan kecelakaan juga dapat membuat seseorang menjadi gila. Masalah-masalah nyata yang terjadi di sekitar kita yang dapat memicu orang menjadi gila adalah naiknya harga BBM yang berakibat pada naiknya semua harga barang termasuk harga sembilan bahan pokok, membuat orang-orang yang sudah kesulitan dalam ekonominya menjadi merasa sangat tertekan dan bertambah kesulitan mengatasi keadaan ekonominya. Masalah lain yang dianggap sebagai penyebab munculnya banyak orang menjadi gila adalah menyemburnya Lumpur Lapindo di Sidorajo. Menurut catatan yang berhasil dihimpun oleh harian Surya, menyebutkan bahwa jumlah penderita psikotis setelah 2 tahun Lumpur Lapindo menyembur meningkat. Peningkatan ini terjadi mulai tahun 2006 jumah penderita yang berjumlah 417 orang, pada tahun 2007 meningkat menjadi 448 orang. Sedangkan pada Januari 2008, jumlah penderita bertambah lagi 11 orang. Dari jumlah itu, sekitar 60 persen penderita termasuk usia produktif, yakni usia 20-40 tahun.
Orang dikatakan gila atau psikotis disebabkan oleh beberapa faktor-faktor yang saling terkait. Faktor biologis penyebab orang jadi gila adalah adanya ketidakakuratan dalam system neurotransmitter di otak, terutama pada jalur diotak yang mengatur nuerotrasmiter dopamine, adanya ketidaknormalan otak yang mendasari banyak kasus seperti kerusakan structural atau gangguan pada jalur di otak yang mengatur fungsi kognitif dan emosional, dan kemungkinan adanya peran infeksi virusyang mempengaruhi perkembangan otak yang terjadi pada masa prenatal atau selama masa awal kehidupan. Sedangkan faktor psikososial yang menjadi penyebab adalah pengalaman yang penuh stress dapat memberikan kontribusi terhadap penderita yang telah memiliki kerentanan secara genetis. Beberapa peneliti meyakini bahwa penyebab orang menjadi psikotis disebabkan oleh interaksi antara genetik dan faktor yang terkait dengan stress. Faktor-faktor keluarga seperti penyimpangan komunikasi dan ekspresi emosi mungkinberperan sebagai sumber stress yang meningkatkan resiko berkembangnya atau berulangnya kembali psikotis pada orang-orang yang telah memiliki kerentanan pada genetisnya.
Ciri-ciri utama psikotis berdasarkan pandangan dari dunia klinis menyebutkan:
* Dua hal atau lebih dari beberapa hal ini harus muncul secara signifikan dalam waktu kurang lebih 1 bulan, yaitu: waham/delusi, halusinasi, pembicaraan yang tidak koheren, perilaku tidak terorganisasi, dan afek datar.
* Fungsi pada hubungan sosial, pekerjaan atau perawatan diri secara nyata berada d bawah tingkatan yang dapat dicapai sebelum munculnya gangguan.
* Tanda-tanda gangguan terjadi secara terus menerus setidaknya selama 6 bulan.
Untuk mengatasi dan merawat penderita psikotis, menurut pandangan klinis melibatkan beberapa pendekatan yang sifatnya menyeluruh. Pendekatan ini disebut dengan pendekatan kontemporer, yaitu menggabungkan antara pendekatan psikofarmakologis dan psikososial. Pengobatan antipsikoptik bukanlah penyembuh namun cenderung menghambat aspek-aspek gangguan yang lebih mencolok dan mengurangi kebutuhan akan perawatan rumah sakit atau resiko episode yang berulang.
Dari pihak pemerintah juga harus berupaya mengatasi semakin meningkatnya jumlah penderita psikotis di masyarakat. Baik Departeman Sosial maupun Departeman Kesehatan seharusnya saling bekerjasama mengatasi masalah sosial ini karena tugas mereka saling terkait satu sama lain mengingat penderita psikotis atau orang gila banyak yang masih berkeliaran. Membuat lembaga-lembaga yang bertujuan membantu pemulihan dan perawatan orang gila seperti panti-panti Tunalaras untuk membina penderita sebelum mereka kembali ke masyarakat atau keluarga.
Negara bersama lembaga-lembaga sosial dalam masyarakat, keluarga dan masyarakat diharapkan dapat bekerjasama dalam mengatasi masalah ini.




Sumber:
Ramadhanny, F. Banyak Orang Gila Berkeliaran di Jalan, Tanggung Jawab Siapa?. http://jkt1.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2005/bulan/10/tgl/25/time/144815/idnews/468568/idkanal/10

Rathus, Spencer.2002.Psikolgi Abnormal 2.Jakarta: Erlangga

Hampir Dua Tahun Lumpur Lapindo Menyembur Orang Gila di Sidoarjo Meningkat. http://www.surya.co.id/web/index2.php?option=com_content&do_pdf=1&id=34958.

Jumlah Orang Gila Meningkat Tiga Kali Lipat. http://www.beritajakarta.com/v_ind/berita_print.asp?nNewsId=23585

Tidak ada komentar: